Penjelasan Ilmu Kebumian Tentang Fenomena Piramida Gunung Sadahurip

Akhir-akhir ini kita sering dengar berita heboh mengenai piramida Gunung Sadahurip di Garut. Sampe-sampe dibilang katanya berumur lebih tua dari Piramida Gaza lah, padahal wujud piramidanya sendiri belum nongol… Sebenernya bener nggak sih? Keren banget donk ya kalau memang piramidnya benar2 ada, bakalan jadi keajaiban dunia baru deh… Hmmm, tapi sepertinya harapan itu akan segera sirna setelah membaca hasil ekspedisi kilat ke piramida Gunung Sadahurip yang dilakukan Pak Sujatmiko, salah satu anggota dan pengurus IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia). Serahkan pada ahlinya saja untuk berbicara…

Selamat membaca… :-)

Gunung  Sadahurip Bukan Bangunan Piramida; Perspektif Ilmu Kebumian

Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang 1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat antara lain G. Kaledong dan G. Haruman , keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Baca selengkapnya »

Ditulis oleh Tiara pada 16 January 2012
3 Komentar
Kategori: Dunia Budaya, Dunia Sains

Kampanye Earth Hour, Ayo Matikan Lampu Yang Tidak Perlu

Kampanye Earth Hour

Sebenarnya Tiara agak telat nulis ini. Tapi tidak ada kata terlambat bukan? Jangan lupa matikan lampu dan peralatan elektronik lainnya yang tidak digunakan pada hari Sabtu, 28 Maret 2009, dari jam 20.30 sampai 21.30. Himbauan ini disampaikan dalam rangka kampanye perubahan iklim global.

Memang sich, kelihatannya sepele dan sederhana, cuma satu jam, tapi kalau kita perhatikan dengan teliti, itu bisa jadi kontribusi yang besar lho.

Kita tahu, konsumsi listrik di Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa, yakni sekitar 77% dari konsumsi nasional. Itu data yang saya dapat untuk tahun 2007. Dan konsumsi listrik wilayah DKI Jakarta dan Tangerang sebesar 23% dari total konsumsi nasional atau 27.929 GWh dengan komposisi 34% sektor rumah tangga (sebagian besar di DKI Jakarta), 30% sektor industri (sebagian besar di Tangerang), dan 29% sektor bisnis (sebagian besar di DKI Jakarta). Pemakaian listrik sebesar itu menghasilkan 24,89 juta ton gas CO2. Ini dihitung berdasarkan data DJLPE tahun 2004-2006 tentang emisi CO2 yang dihasilkan dari produksi listrik: 0,891 ton CO2/MWh.

Karena itu, dengan mematikan lampu di DKI Jakarta dan sekitarnya selama 1 jam, akan menghemat 10% dari konsumsi listrik rata-rata per jamnya. Angka itu akan setara dengan 300 MW dan cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik yang mampu mengaliri listrik ke 900 desa; juga dapat mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta; serta mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton, menyelamatkan lebih dari 284 pohon, dan menghasilkan oksigen untuk lebih dari 568 orang.

dikutip dari Earth Hour – Kemal Stamboel

Jadi ya, sebenarnya, kampanye ini tidak hanya bisa dilakukan sabtu malam ini saja, akan tetapi SETIAP HARI jika perlu. Kampanye Earth Hour tahun ini targetnya menjangkau 1 miliar orang di 1.000 kota di dunia. Alhamdulillah, per 17 Maret 2009, telah terdaftar 1.539 kota di 80 negara. Jadi, jangan sampai kamu bukan salah satu dari mereka.

Informasi selengkapnya baca tulisan ini yach, Ayo Matikan Lampu Yang Tak Perlu!

Note: Buat yang lagi malam mingguan bersama keluarga / pasangan, kan lebih asyik malam mingguan ga pake lampu, cukup pake lilin saja, lebih romantis, dan lebih terasa kebersamaanya. ;)

Ditulis oleh Tiara pada 28 March 2009
38 Komentar
Kategori: Dunia Lingkungan

WiMAX versus LTE

Dua teknologi nirkabel yang baru naik daun ini tampak bersaing. WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) lebih dulu lahir daripada LTE (Long Term Evolution). Secara perangkat dan dukungan vendor handset WiMAX lebih siap dibandingkan LTE pada tahun 2009. Sedangkan LTE akan berkembang setelah tahun 2010. Masing-masing teknologi ini oleh International Telecommunications Union (ITU) akan dijadikan kandidat standar jaringan 4G (at least 100 Mbps untuk transfer data) paling tidak pada tahun 2009.

Secara kecepatan LTE unggul diatas WiMAX generasi yang sekarang (IEEE.802.16e). LTE mampu menghadirkan kecepatan downlink hingga 100 Mbps dan uplink 50 Mbps dan dapat dikembangkan hingga 250 Mbps untuk downstream. Akan tetapi kecepatan ini nantinya akan bersaing dengan generasi WiMAX II (IEEE.802.16m) yang akan diperbarui pada tahun 2009. WiMAX II akan berjalan pada mode Mobile dengan speed 100 Mbps dan Fixed hingga 1 Gbps (sesuatu yang luar biasa untuk pertukaran data secara nirkabel). Selain LTE dan WiMAX, ada satu lagi teknologi yang hampir mirip dengan LTE yaitu UMB (Ultra Mobile Broadband) tetapi dasar pengembangannya adalah CDMA. Bahkan UMB ini downstream-nya lebih besar dibandingkan LTE yaitu mencapai 288 Mbps (dengan band 20 Hz).

WiMAX versus LTE

WiMAX versus LTE

LTE dikembangkan oleh 3GPP (grup GSM, terutama Ericsson), sedangkan UMB diusulkan oleh 3GPP (grup CDMA 2000, terutama Qualcomm), dan WiMAX II oleh WiMAX Forum (terutama Intel). Untuk lebih jelas nya roadmap evolusi teknologi nirkabel di dunia seperti di bawah ini.

(1)   GSM (2G) – GPRS (2.5G) – EDGE – WCDMA (3G) – HSDPA (3.5G) – LTE (4G)

(2)   CDMA (2G) – CDMA 2000 – EV-DO (3G) – UMB (4G)

(3)   Wi-Fi – Fixed WiMAX – Mobile WiMAX – WiMAX II (4G)

Teknologi 4G seperti LTE dan WiMAX didesain lebih kepada transfer data bukan suara, berbasis jaringan IP dan berdiri di atas teknologi OFDM. Kecepatan yang tinggi pada 4G memungkinkan suara, video, dan data dapat diakses dalam satu perangkat yang praktis. Di masa mendatang, konsumen dijanjikan akan dapat melakukan download dan upload High Definition Video, layanan data berkapasitas besar dan Value Added Service (VAS) seperti interactive gaming, mengakses e-mail dengan attachment besar serta bergabung dalam video conference dimanapun dan kapanpun.

Peluang Pasar LTE dan WiMAX

LTE yang merupakan pengembangan dari GSM dan CDMA diprediksi akan mudah melakukan penetrasi ke pasar. Teknologi GSM sudah dipakai secara dominan (80 %) di seluruh belahan dunia. Jaringan GSM dan CDMA sudah sangat luas terutama di kota-kota dunia. Oleh karena itu tidak heran LTE akan memiliki pasar yang lebih besar di banding dengan WiMAX. Akan tetapi teknologi WiMAX lebih ekonomis untuk pengembangan jaringan baru di wilayah-wilayah pedesaan. WiMAX memiliki biaya investasi yang jauh lebih murah dibanding BTS GSM. Jika satu BTS GSM membutuhkan biaya invetasi hingga Rp1 miliar maka jumlah unit yang sama untuk BTS Wimax hanya membutuhkan biaya kira-kira Rp 60 juta saja. Segmentasi pasar pemakaian WiMAX dan LTE sudah jelas. WiMAX akan berjaya di daerah-daerah pedesaan yang sulit dan jarang terdapat BTS. Sedangkan LTE akan berkembang pesat di daerah perkotaan, memanfaatkan jaringan-jaringan BTS yang sudah tersedia.

Penulis : Amri Widyatmoko

Disarikan dari berbagai sumber

Ditulis oleh Amri Widyatmoko pada 30 December 2008
32 Komentar
Kategori: Dunia Internet, Dunia IT

WiMAX : Layanan Komersil yang Pasti nge-Trend

Siapa yang tidak kenal WiMAX ? Teknologi wireless berkecepatan tinggi ini sangat dinanti kedatangannya oleh penggila internet. WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) dilahirkan sebagai solusi layanan data cepat pada akses internet nirkabel. Berbeda dengan 3G dan CDMA yang memfokuskan diri pada layanan suara. WiMAX dapat diposisikan sebagai pelengkap teknologi internet nirkabel yang sudah ada, yaitu HSPA (pengembangan dari 3G) dan CDMA2000 1x EV-DO (pengembangan dari CDMA).

WIMAX

WIMAX

Divergensi layanan teknologi nirkabel setidaknya akan terjadi lagi, seperti halnya teknologi seluler berbasis suara antara GSM dan CDMA. Di tahun-tahun mendatang dapat diprediksikan orang akan menggunakan WiMAX untuk akses data internet nirkabel dan 3G/CDMA EV-DO  untuk telepon seluler. Kecepatan akses data WiMAX yang dapat mencapai 72 Mbps dengan jangkauan hingga 50 km membuat teknologi ini sangat menarik untuk diimplementasikan. Peluang bisnis WiMAX di belahan dunia yang meliputi operator dan vendor perangkat perlahan-lahan namun pasti semakin terbuka lebar.

Pasar WiMAX di Asia sangat besar dan potensial. Pengguna awal (early adopters) WiMAX diprediksikan terjadi di negara-negara dengan penetrasi selular berbasis suara besar tetapi rendah dalam penggunaan akses internet broadband, seperti Malaysia, India, Thailand, Filipina dan Indonesia. Rata rata di negara ini WiMAX baru diujicobakan sambil menunggu regulasi pemerintah, model bisnis, dan kesiapan perangkat sebelum dirilis menjadi layanan komersil.

Desas-desus WiMAX sudah lama terdengar di Indonesia. Tender operator WiMAX akan segera di gelar pemerintah di awal-awal tahun 2009. Persaingan antar operator diperkirakan akan seru. Di mulai dari tender backbone besar yaitu Palapa Ring yang akan menghubungkan pulau-pulau di Indonesia bagian Timur, kemudian pembangunan USO atau jaringan utama telepon “pedesaan” baru kemudian WiMAX sebagai “last mile” koneksi broadband atau akses di ujungnya. Pemerintah akan mengalokasikan band BWA (Broadband Wireless Access) untuk  frekuensi Mobile WiMAX pada 2.3 GHz dan Fixed WiMAX pada 3.3 GHz. Alokasi band Fixed WiMAX di frekuensi ini dimaksudkan agar tidak meng-interferensi band frekuensi 3.5 GHz untuk komunikasi satelit. Sedangkan band frekuensi mayoritas yang paling banyak dipakai di dunia untuk Mobile WiMAX adalah 2.5 GHz.

Vendor vendor perangkat WiMAX lokal sudah banyak yang unjuk gigi diantaranya, TRG WiMAX, HiMAX 231, dan pembuat chipset WiMAX yaitu XIRKA. Diharapkan dengan tingginya kandungan lokal pada perangkat WiMAX di Indonesia, industri telekomunikasi nasional semakin berkembang dan ikut menurunkan ketergantungan terhadap perangkat telekomunikasi asing.

Baca selengkapnya »

Ditulis oleh Amri Widyatmoko pada 28 December 2008
16 Komentar
Kategori: Dunia Internet, Dunia IT